Beranda Berita Hendy Suprandani Presiden Republik Bikers Indonesia Yang Menginspirasi

Hendy Suprandani Presiden Republik Bikers Indonesia Yang Menginspirasi

Cileunyi – Hendy Suprandani sosok ganteng kalem yang murah senyum saat berjumpa dengan siapa saja memberi kesan hangat.

Hendy pengusaha percetakan bernaung pada The Sizer Grafik serta bergelut dalam usaha kuliner makanan ringan bernama Pegas (peanuts ngegas), yakni kacang roosting beraroma daun jeruk segar.

Kesuksesannya menapaki jalur entrepreneur tidak lepas dari perjalanan hidup sebagai orang rantau datang ke Bandung pada tahun 2000 sebagai tukang parkir.

Perjumpaan Hendy dengan juragan parkir legendaris daerah Cihampelas, Dodo Bedhog membuka wawasannya untuk belajar tanggug jawab bila diberi amanah.

Jiwa muda Hendy semakin terasah dan memasuki dunia kekerasan dijalani seiring waktu untuk sekedar bisa makan dengan memungut uang parkir motor dan mobil.

Sempat berprofesi sebagai cleaning service di pusat perbelanjaan modern jalan merdeka Bandung dilakoninya hingga tidur beralaskan kertas koran di tangga basement.

“Karena belum mampu bayar kamar kost dan terbiasa tidur diemper toko saat jadi tukang parkir, waktu kerja di pusat perbelanjaan itu pun saya tidur dikolong tangga gedung basement,” kata Hendi mengenang.

Ibu saya tiba-tiba menengok datang dari Jakarta ke Bandung dan merasakan ada yang tidak beres dengan pekerjaan yang saya lakukan sampai benar-benar tidak bisa merawat diri tidur dikolong tangga, lanjut Hendi.

Jiwa muda Hendy mendorong tekadnya untuk dapat memperbaiki hidupnya dengan mengadu nasib di Bali pada tahun 2002 sebagai penyewa alat surving pada wisatawan.

Namun, kehidupan bebas di Bali tidak membuat Hendy nyaman dengan pekerjaan layanan jasa tersebut membawa dirinya sebagai sales kursi pijat untuk kesehatan di Surabaya.

Kariernya sebagai sales kursi pijat membawa Hendy sebagai karyawan berprestasi hingga harus di mutasi ke Malang dan Yogjakarta pada tahun 2004 hingga tahun 2007.

Pencarian Hendy tidak berhenti di Kota Gudeg, membuatnya kembali ke Bandung bekerja sebagai cleaning service, doorman dibeberapa hotel berbintang di Kota Kembang.

Pengalaman Hendy sebagai pekerja, pernah berprofesi sebagai fotografer mayat di rumah duka, sales peti mati hingga sebagai karyawan kantoran hingga pada tahun 2011 menemukan pujaan hati dan menikah.

Membuka lembaran baru bersama istri, Hendy dipercaya oleh pengusaha travel & umroh sebagai Pemimpin pada salah satu cabang di bilangan jl. Buah Batu, Bandung.

Profesi dengan jabatan Pemimpin pun ditinggalkan Hendy yang sudah mulai merasakan kesesuaian karakter dirinya sebagai pemimpin tegas yang amanah berasal dari tempaan dan pengalaman perjalanannya sebagai pekerja.

Berdirilah The Sizer Grafik dalam tekadnya dengan bermodalkan jual motor kesayangan digantikan seperangkat komputer guna kebutuhan desain pada tahun 2017.

Semula Istri Hendi tidak mendukung dan sempat marah dengan ditukarnya sepeda motor menjadi komputer, karena komputer belum bisa langsung menghasilkan uang sebagai biaya hidup bila dibandingkan dengan fungsi sepeda motor yang dapat dimanfaatkan sebagai ojek.

“Waktu itu istri belum mengetahui manfaat komputer, tapi kalau motor kan bisa dibuat alat transportasi bila mau pergi bekerja atau sebagai tukang ojek,” kisah Hendy.

Berawal dari cetak spanduk, undangan khitanan, undangan kawinan dilakoni Hendy dengan tekun, karena hobby menggambar dapat tersalurkan dalam pekerjaan yang ditekuninnya.

Dari usaha percetakan ini lah, Hendy mulai belajar banyak tentang entrepreneur, kemandirian pengusaha saat berinteraksi dengan calon konsumen maupun penyandang dana.

Cerita manis Hendy saat memperoleh pekerjaan barang cetakan dari Unpad dengan sistem lelang diperoleh tanpa sengaja saat pengajuan harga, karena bersamaan itu pula Handy sedang menghitung kalkulasi order spanduk.

“Teriakan saya menyebut angka 2.500 membuat lelang jatuh pada saya, padahal saya ngk sengaja sebut karena bersamaan dengan mengkalkulasi harga spanduk pesanan konsumen yang harus saya hitung melalui kalkulator di hape,” cerita Hendy.

Lucunya, lelang yang nilainya ratusan juga dengan keuntungan sekitar puluhan juta datang bersamaan dengan order spanduk yang mempunyai keuntungan Rp. 20.000,-, lanjut Hendy.

“Namun karena komintmen yang dijalankan dan layanan terbaik yang selalu saya berikan, tetap saya kerjakan semua,” jelas Hendy.

Kembali saya mengalami dilema, tersadar saat mengurus SPK. Saya kan tidak punya modal untuk pengerjaan awal membeli bahan baku cetak yang kurang lebih membutuhkan uang sekitar 40 juta, tambah Hendy sambil ngehuleung mengingat saat itu.

“Alhamdulillah ada rekan kerja yang memberi pinjaman uang untuk modal dan saya bisa pulang dengan tenang dengan jalan kaki, karena uang dikantong celana tinggal 7.500,” kata Hendy.

Uang 7.500 adanya itu rencana untuk naik angkot dan sisa nya untuk beli makan istri, tapi sayang sekali kalau dibuat naik angkot akhirnya saya jalan kaki sampai rumah, tambah Hendy.

Keesokan harinya dapat kabar dari teman yang hendak memberi modal melalui pesan singkat BBM bahwa uang sudah masuk kerekening saya.

Segera saya pergi ke ATM untuk mericek saldo dengan berdebar-debar karena ada uang banyak masuk rekening.

Dilayar monitor saya tidak yakin dengan menghitung angka “0” yang berderet banyak dengan berkali-kali menghitung.

“Saking lamanya saya menghitung digit angka sempat ditegur antrian belakang untuk segera menyudai transaksi,” kenang Hendy.

Akhirnya saya mencoba tarik tunai 300 ribu dan tampak ada pengurangan di saldo baru saya yakin bahwa ada uang banyak yang masuk rekening.

“Saking gembiranya, saat itu langsung teringat akan kondisi istri dirumah saat saya tinggal kondisinya belum makan, maka saya mampir ke rumah makan padang beli Nasi Padang dua bungkus yang buat saya makanan paling mewah sepanjang hidup, ucap Hendy.

Sejak itu, pekerjaan cetakan berangsur lancar dengan komitmen layanan terbaik yang saya berikan, lanjut Hendy.

Seiring waktu, hobby touring bersama rekan komunitas motor mendirikan Republik Bikers Indonesia (RBI) dan saya didapuk sebagai Presiden-nya pada 05-05-2019.

Hingga sekarang, yang tergabung dalam komunitas RBI sebanyak 25.356 dengan 972 club motor se Indonesia.

“Sebagai Presiden Republik Bikers Indonesia saya harus merubah image masyarakat bahwa komunitas motor yang terlanjur buruk ini atau disebut dengan Geng Motor dengan kegiatan sosial yang bermanfaat buat anggota dan masyarakat sekitarnya,” kata Hendy Suprandani, Presiden Republik Bikers Indonesia.

Sudah banyak kegiatan sosial yang RBI lakukan seperti membagi sembako, menanam pohon dan sosialisasi kepada masyarakat tentang bijak mengelola sampah.

“Beberapa waktu lalu ada kegiatan mendirikan Bank Sampah di Pangandaran, sebuah kegiatan pilot project yang dapat dipraktekkan oleh anggota di masing-masing chapter atau club motornya,” ujar Hendy.

Selain itu, upaya memberi pelatihan dibidang ekonomi saya membuat makanan ringan Pegas atau Peanuts Ngegas dengan desain kemasan unik khas anak motor dan tahu krispi memberi peluang anggota untuk memasarkan dan belajar berbisnis.

“Tidak menutup kemungkinan, anggota RBI dapat memiliki usaha jenis lain sebagai usaha pribadi atau kelompok untuk kemandirian agar bila melaksanakan kegiatan sosial tidak menggantungkan pada proposal bantuan,” tegas Hendy.

Dilingkungan tempat tinggal sebagai base camp di Kampung Sukamaju, Cileunyi Kulon, Cilenyi, Bandung saya mendirikan Himpunan Pengusaha Cicalengka atau HPC sebagai wadah diskusi anggota tentang usaha UMKM.

“Saya bersyukur dapat bergabung dengan FUN, bertemu dengan pelaku UMKM lain yang jelas langkahnya berbeda dari awal dengan RBI yakni komunitas motor tentunya pola pikir dan pola kerjanya berbeda, ala anak motor,” kata Hendy.

Prinsipnya, saya menekankan pada anggota atau warga RBI bila memulai usaha jangan memilih usaha yang ikut-ikutan, utama kan action, jalani dengan evalusi agar dapat menentukan sistem penjualan yang baik.

Libatkan Tuhan saat menjalani usaha, asah kemampuan dan yang paling penting bijak mengelola keuangan jangan sampai sudah puas dengan adanya keuntungan.

Jangan lupa, harta yang ada itu hanya titipan dari Tuhan, milik kita hanya yang kita sodakohkan pada yang membutuhkan, lanjut Hendy.

Saling membantu dengan gotong royong dan terbuka bila ada yang ingin mengajak diskusi kebaikan, kita akan merasakan tidak sendiri.

“Mintalah kelancaran usaha kepada Tuhan, karena rejeki yang diberikan Tuhan sudah ada, tinggal kita mau mengambilnya dengan cara apa ? Dengan cara yang baik atau halal atau dengan cara yang tidak baik atau haram seperti korupsi, menipu, membohongi konsumen, memberikan produk tidak berkualitas dan lain-lain keculasan,” himbau Hendy.

Jujur pada diri sendiri mengasah kita untuk jujur pada orang lain sebagai landasan kuat yang perlu dilatih setiap saat, karena dengan jujur kita bisa fokus dengan apa yang kita jalani.

“Dukungan dan do’a dari keluarga juga mempunyai peran besar, karena sebagai portal penyambung signal Tuhan dalam menjalankan segala upaya agar barokah,” jelas Hendy.

“Seperti moto FUN miliki yaitu Enjoy Your Business & Having FUN,” pesan Hendy Suprandani, Presiden Republik Bikers Indonesia yang menginspirasi.***

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here